Revolusi Mental Melalui Puasa (M.Yusuf)

Tentunya kita semua masih ingat dengan kemeriahan hari raya idul fitri yang baru saja selesai, mari sejenak kita mengingat kembali. Sesaat setelah selesai puasa ramadhan hiruk pikuk hari raya idul fitri langsung terasa. Persiapan mulai dilakukan oleh setiap muslim. Mulai dari mempersiapkan makanan, pakaian baru, rehab rumah sampai yang sedang berada di tanah perantauan mudik atau pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga. Semua ingin merayakan hari kemenangan setelah 30 hari berperang dengan nafsu. Datangnya hari raya idul fitri tentunya tidak hanya bermakna sekedar meraih kemenangan setelah berhasil menempuh satu bulan puasa. Apalagi hanya dijadikan momen untuk berkumpul dengan sanak saudara, sahabat terdekat atau orang yang dicintainya untuk saling bermaafan. Akan lebih substansial jika idul fitri dimaknai sebagai hari untuk bangkit atau Nahdhah. Tentunya bangkit tidak hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam konteks sosial. Bangkit di sini artinya puasa dimaknai tidak hanya untuk meningkatan kualitas individual namun juga meningkatkan kualitas kehidupan sosial. Seperti kita ketahui bersama bahwa puasa selama satu bulan merupakan proses penempaan diri untuk membentuk hati, pikiran, dan tindakan yang suci. Kesucian yang didapat tidak akan bermakna apa-apa jika tidak ditranformasikan dalam kehidupan sosial. Indikator keberhasilan menjalankan ibadah puasa adalah ketika perilaku atau tindakan seseorang menjadi lebih baik, beradab atau saleh. Dengan bahasa lain puasa yang dilakukan oleh umat Islam sedunia selain membentuk kesalehan individul juga membentuk kesalehan sosial. Inilah kenapa setelah selesai berpuasa umat Islam masih diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Ini bermakna bahwa hubungan seseorang dengan Allah tidak sempurna jika tidak menjalin hubungan dengan sesama manusia. Di sinilah esensi kesempurnaan kesalehan seseorang. Ada loncatan atau prestasi yang diraih untuk bangkit ke hal yang lebih tinggi, lebih baik dan lebih mulia. Seperti halnya kupu-kupu yang bangkit dari kepompong untuk bangkit meraih kesempurnaan.

            Lalu bagaimana dampak puasa dalam kehidupan berbangsa, khususnya di Indonesia? Jika secara personal berpuasa berarti melawan nafsu, baik nafsu makan dan minum hingga nafsu syahwat untuk bangkit berbenah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Maka dalam konteks berbangsa pun sama, bahwa puasa       juga bermakna untuk membangun kepribadian bangsa. Proses penempaan diri selama berpuasa berkait erat dengan proses pembenahan mental. Jika dilihat Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Itu artinya mayoritas penduduk di Indonesia menjalankan ibadah puasa atau sedang menjalankan penempaan dengan melawan nafsu. Dengan begitu maka akan berdampak pada kehidupan bangsa jika mayoritas penduduknya sedang menempa diri menjadi pribadi yang baik. Ini proses yang dimulai dari pembenahan personal menuju pembenahan sosial. Pertanyaanya sekarang apakah di Indonesia proses personal tersebut sudah bisa memberi dampak positif dalam kehidupan sosial kebangsaan? Dalam konteks politik, sosial, ekonomi, hukum, budaya, pendidikan dan lain-lain sudah adakah tanda-tanda ke arah perubahan yang lebih baik dihari-hari terakhir bulan puasa ini? Ini pertanyaan yang perlu direfleksikan bersama. Jika melihat persoalan-persoalan di Indonesia memang mental menjadi hal yang segera harus diperbaiki. Itulah sebabnya dalam sloganya presiden Joko Widodo menggembor-gemborkan revolusi mental. Revolusi berarti upaya melakukan perubahan secara total dan menyeluruh. Maka revolusi mental merupakan cita-cita perubahan total pada mental diri bangsa Indonesia. Bulan puasa akan sangat strategis dalam mengupayakan revolusi mental. Melalui puasa setidaknya orang akan mulai membiasakan diri untuk tidak menuruti hawa nafsunya. Kemudian melawan dan mengalahkan ajakan-ajakan godaan nafsu. Dengan begitu orang akan menjadi kuat pribadinya. Tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah, dan optimis dalam mejalani kehidupan. Dan yang terpenting tidak mudah tergoda oleh rayuan jabatan, kekayaan atau harta karena sudah terbiasa merasakan lapar. Dari sisi inilah rasa empati sosial atau perikemanusiaan tumbuh. Sehingga ke-fitri-an benar-benar akan diraih. Seperti yang disampaikan oleh Gus Dur bahwa Islam memberikan kemampuan fitri, akli dan persepsi kejiwaan kepada manusia untuk hanya mementingkan masalah-masalah dasar belaka. Masalah dasar berarti masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia. Seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan lain-lain. Segenap potensi yang dimiliki oleh manusia kemudian disalurkan melalui pranata sosial.

Berawal dari proses penempaan mental melalui puasa membawa harapan perubahan mental pada kehidupan berbangsa. Jika pribadi-pribadinya kuat maka akan terbentuk suatu bangsa yang kuat pula. Jadi ada kebangkitan-kebangkitan yang bisa diraih setelah menjalankan puasa. Pertama, kebangkitan dari kesadaran individual menuju kebangkitan kesadaran sosial. Kedua, kebangkitan dari mental yang lemah menuju mental yang kuat. Ketiga, kebangkitan dari sikap apatis menuju sikap empati. Keempat, kebangkitan dari sikap elitis (birokrat) menuju sikap populis (merakyat). Kelima, kebangkitan dari sifat malas menuju kebangkitan etos kerja yang kuat.

Jadi 1 Syawal merupakan hari kebangkitan bagi umat Islam bukan sekedar hari kemenangan. Terlebih bagi bangsa Indonesia semoga moment puasa kali ini benar-benar membentuk pribadi bangsa yang lebih baik. Kebahagian yang dirayakan pada hari tersebut semoga tidak hanya seremonial tahunan. Tetapi menjadi inspirasi dan motivasi bagi kehidupan selanjutnya hingga dipertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang. Sampai hari ini setelah berpuasa ramadhan dan merayakan Idul Fitri, apakah sudah ada dampak positif dalam kehidupan sosial?

Biodata Penulis

Nama

:

Muhammad Yusuf

Alamat

:

Wonojoyo, Bomerto, Wonosobo

Pekerjaan

:

Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik

Universitas Sains Al Quran Jawa Tengah di Wonosobo

Tempat tanggal lahir

:

Wonosobo, 1 November 1991

Pengalaman organisasi

:

Ketua Umum PC PMII Wonosobo

Kemendagri BEM UNSIQ 2014-2015

Sekretaris majalah kampus Sauthul Quran

Pimpinan Redaksi Majlah Plano