Bukan Soal Agama (M.Yusuf)

IMG-20150330-00163_1430267577760_n

Banyak fakta yang terjadi di Indonesia bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok radikal tertentu dengan menggunakan baju Islam sebagai alat legitimasi kekerasan atas nama jihad di jalan Tuhan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di negeri ini. Memprihatinkan memang melihat kondisi ini, Islam yang seharusnya menjadi agama yang ramah terkesan menjadi agama yang mudah marah dan menakutkan. Begitu murah darah dan nyawa manusia ditangan kelompok yang mengaku berjuang di jalan Tuhan. Seakan tak mengenal dosa mereka berteriak-teriak menyebut nama Tuhan begitu mudah menghunuskan pedang atau membakar tempat ibadah. Dalam pandangan mereka jihad adalah perang dan membunuh, suatu pemahaman yang sangat dangkal. Tidak hanya itu pendangkalan tentang makna jihad mendorong pada nalar destruktif sehingga mati dengan meledakan bom pun rela mereka lakukan demi imajinasi tentang iming-iming surga. Kehidupan beragama menjadi sangat ekslusif seolah-olah semua yang berbeda dengan mereka akan diklaim telah keluar dari ajaran Tuhan dan dianggap kafir. Klaim kebenaran mutlak atau bahkan kepentingan di luar agama menjadi motif utama penyelewengan ajaran agama yang berujung pada teror dan pembunuhan.

Klaim kebenaran mutlak membuat perbedaan keyakinan dalam menjalankan ajaran agama menjadi suatu masalah yang serius. Padahal perbedaan yang ada adalah sebuah keniscayaan karena setiap orang atau golongan bebas untuk menjalankan keyakinanya masing-masing. Kebebasan atau dalam pandangan Al-Qur’an sangat dijunjung tinggi, termasuk kebebasan dalam menentukan pilihan agama sekalipun lihat (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Bahkan secara tersurat Allah memberikan kebebasan lihat (QS. Al-Kahf [18]: 19) apakah seseorang itu mau beriman atau kafir. Sebab, kebebasan merupakan hak setiap manusia yang diberikan Allah swt tidak ada pencabutan hak atas kebebasan kecuali di bawah dan setelah melalui proses hukum. Padahal di atas semua itu ada hal yang begitu penting untuk diperjuangkan, semisal persoalan kesejahteraan umat, keadilan, HAM, kesenjangan sosial, mengentaskan kebodohan, kemiskinan, membela bangsa dan lain-lain. Inilah yang seharusnya menjadi fokus pejuangan umat Islam untuk mencapai kemajuan bersama, bukan malah mempersoalkan perbedaan keyakinan dengan klaimnya masing-masing.

Jika kita menengok makna jihad nabi pernah mengatakan seusai kaum muslimin kembali dari medan pertempuran bahwa mereka baru saja kembali dari jihad kecil dan masih ada jihad yang lebih besar. Jihad yang lebih besar itu adalah jihad melawan hawa nafsu. Termasuk nafsu memangkas kebebasan orang lain untuk memilih apa yang diyakini sebagai kebenaran. Hal ini jelas terdapat pesan moral kepada umat Islam untuk mengendalikan nafsu (diri) agar selalu ada kecenderungan untuk memperbaiki diri menuju kebaikan bersama (Islam).

Beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia dan menciderai Islam sebagai agama rahmatalil’alamin. Mulai dari kekerasan terhadap Jamaah ahmadiyah di Manislor Kuningan Jawa Barat tahun 2007, kekerasan terhadap Jama’ah Al Qiyadah al Islamiyah Siroj Jaziroh Padang Sumatra Barat tahun 2007, sampai kekerasan terhadap Jemaat Gereja di Bandung Jawa barat tahun 1995, 1999, 2005 dan 2007, aksi brutal FPI, kekerasan yang di alami oleh komunitas Syiah di Sampang, kasus kekerasan terhadap umat katolik di Sleman Yogyakarta tahun 2014, beberapa aksi teror yang terjadi beberapa tahun terakhir dan masih banyak lagi contoh-contoh kasus kekerasan atas nama agama.

Motivasi dibalik Radikalisme Agama

            Kekarasan atas nama agama terjadi tidak hanya skala lokal namun skala internasional. Dalam skala internasional kita bisa melihat kelompok yang bisa melakukan aksi kekerasan dengan segala varianya. Bebrapa kelompok Islam yang menggunakan cara-cara radikal diantaranya negara mayoritas muslim seperti di Arab, Nigeria, Turki Pakistan, dan Indonesia; maupun di Negara yang berpenduduk minoritas muslim, seperti India, Filipina, dan disebagian Negara Barat. Dapat dicontohkan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Syiria, Jama’ati Al-Islamiy di India dan Pakistan, Hizbullah di Lebanon, Hizb Al-Dakwah di Iraq, Jamaah Islamiyah di Indonesia dan yang baru-baru ini muncul adalah ISIS di Iraq dan Syiria, Boko Haram di Nigeria. Berbagai media banyak memberitakan bagaimana kelompok radikal tersebut melakukan aksinya, mulai dari teror atau penyerangan sampai doktrinasi keyakinan atu rekrutmen untuk mengikuti gerakan kelompok tersebut. Lalu apakah sebenarnya yang mendorong orang melakukan radikalisme menggunakan agama? Benarkah agama mengajarkan gerakan kekerasan? Untuk menjawab pertanyaan ini ada teori yang bisa digunakan untuk membaca masalah ini. Dari fakta-fakta yang terjadi secara umum gerakan radikal tersebut adalah misi khilafiyah atau kepemimpinan Islam karena kekecewaan terhadap pemerintahan yang sekarang atau kekecawaan terhadap modernisasi. Ini artinya ada keterkaitan atau hubungan dengan konteks dimana kelompok tersebut berada. Seperti yang disampaikan oleh George Ritzer dalam teori strukturalnya mengatakan bahwa gerakan-gerakan terorisme karena suatu kondisi lingkungan, sosial, budaya, politik dan struktur ekonomi masyarakat. Pandangan ini melihat bahwa gerakan radikalisme agama bukan semata-mata karena menegakan ajaran agama tetapi lebih disebabkan pada kekewaan mereka terhadap kondisi sosialnya sendiri.. Kemudian ketidakadilan pemerinyahnya serta ketersedianya alat persenjataan sehingga golongan radikal begitu mudah melakukan teror. Dari beberapa hal tersebut maka unsur politis menjadi kemungkinan yang mendorong kelompok radikal melakukan aksi kekerasan.

            Untuk itu sudah bisa dipastikan bahwa gerakan radikal tidak mempunyai kepentingan agama. Mereka hanya menggunakan agama sebagai alat atau kendaraan untuk melancarkan aksi kekerasan demi kepentingan kelompoknya. Artinya gerakan mereka di luar ajaran agama dan bukan unutk agama. Karena agama tidak pernah mengajarkan pemaksaan dan kekerasan dalam pelaksanaan ibadah. Jadi sebagai orang yang hidup ditengah berbagai situasi dan kondisi keberagamaan yang berbeda kita harus bisa membedakan antara ajaran agama dengan ajaran suatu golongan dan apakah ini soal agama atau bukan?

Biodata Penulis

Nama : Muhammad Yusuf
Alamat : Wonojoyo, Bomerto, Wonosobo
Pekerjaan : Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Sosial PolitikUniversitas Sains Al Quran Jawa Tengah di Wonosobo
Tempat tanggal lahir : Wonosobo, 1 November 1991
Pengalaman organisasi : Ketua Umum PC PMII WonosoboKemendagri BEM UNSIQ 2014-2015Sekretaris majalah kampus Sauthul QuranPimpinan Redaksi Majalah Plano