Mahasiswa dan Identitas Budaya (M.Yusuf)

IMG-20150507-00232

 

 

Terbukanya hubungan antar individu, antar kelompok, dan antar negara atau yang sering disebut dengan globalisasi tidak hanya mengaburkan sekat-sekat antar negara tetapi juga mengaburkan indentitas kebudayaan. Karena dalam konteks kebudayaan maka hal yang pasti terjadi adalah bertemunya antar budaya sehingga meniscayakan semangat untuk mempertahankan budaya masing-masing dan menyatukan dua budaya untuk membentuk satu budaya baru. Di sinilah identitas kebudayaan perlu kita lihat lebih dalam lagi karena saat ini masyarakat kita lebih menyukai sesuatu yang baru tanpa melihat baik buruknya.

Kebudayaan merupakan tata nilai yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu. Tata nilai yang dibangun oleh masyarakat menjadi suatu kepercayaan dalam mejalani kehidupan. Seperti etika, moral, adat istiadat, hukum, dan sebaginya merupakan nilai-nilai yang menjadi cara atau gaya hidup yang harus dijalani bahkan ditaati. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Maka kebudayaan yang dijalankan oleh suatu masyarakat akan menjadi sebuah identitas bagi setiap masyarakat. Sebagai contoh, orang Jawa sangat mengutamakan etika andap asor dalam berperilaku sehingga identitas yang melekat pada orang Jawa adalah masyarakat yang penuh sopan santun. Lain halnya dengan orang Amerika yang kehidupanya sangat materialistis sehingga orang Amerika sangat individualis atau mengedepankan kebebasan dari pada kesantunan.

Lalu bagaimana dengan kehiduapan manusia saat ini dimana interaksi antar budaya terjadi tanpa sekat? Apakah identitas budaya sendiri masih terjaga? Ini merupakan pertanyaan yang harus direfleksikan bersama agar kita tahu dan menyadari identitas budaya kita untuk memepertahankan nilai-nilai yang telah dibangun. Jika kita sadari bahwa era sekarang ini perkembangan tekhnologi informasi sebagai alat interaksi kebudayaan lebih banyak menawarkan hal yang sama sekali tidak substansial. Ia mentereng, mempunyai daya tarik luar biasa, ia lama kelamaan meyedot pandangan asli kita tentang nilai, tentang dasar harga diri, tentang status. Ia menawarkan kemewahan-kemewahan yang dulu bahkan tidak dapat kita impikan. Ia menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir sendiri, berhenti membuat kita kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan darah , kehabisan identitas. Kebudayaan modern membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern sungguhan (Suseno: 1992). Sekarang lihat saja kehidupan sehari-hari masyarakat kita, teramat sering kita mendengar berita seorang anak membunuh orang tuanya hanya karena tidak dituruti keinginanya, orang rela membunuh sesamanya hanya demi sesuap nasi, remaja-remaja yang jauh dari pendidikan moral dengan menampakan perilaku arogan, industri-industri media yang banyak manampilkan sesuatu yang tidak mendidik apalagi kesantunan, cara berpakaian, cara bergaul, gaya hidup yang miskin etika dan masih banyak lagi contoh-contoh masalah kebudayaan. Itu semua karena akibat dari pola pikir masyarakat yang sudah terjerumus dalam budaya materialisme. Orientasi hidup mereka hanyalah keberlimpahan materi sehingga nilai-nilai kemanusiaan hilang tergantikan dengan keserakahan. Kehidupan manusia di dunia ini sedang menjadi tidak realistik dan cenderung menjadi semu. Untuk mencukupi kebutuhan, manusia bersedia memepertaruhkan nilai-nilai substansial, seperti nilai kemanusiaan, kealaman, keilahian. Hal ini bersumber dari karsa berupa nafsu manusia untuk menguasai dunia. Kehadiran teknologi dan perindustrian dimanfaatkan secara oportunis yang mendorong nafsu keserekahan dengan menyisihkan moral keadilan (Suparlan :2005). Jika seperti ini lantas peradaban macam apa yang hendak dibangun ketika kehidupan hanya dipenuhi keserakahan, keangkuhan dan egoisme. Saya teringat tulisan Bre Redana dalam kompas yang mengatakan dalam aspek kehidupan apapun, ekonomi, politik, sosial, industri tekanan hidup selalu ada sehingga menggeser unsur-unsur kemanusiaan semacam rasa persaudaraan, kehangatan, kelembutan hati, cinta kasih dan tepa slira. Padahal di atas itu semua peradaban hendak dibangun. Sekarang yang terjadi adalah kemewahan, keberlimpahan harta, pola hidup glamor telah menjadi ukuran harga diri. Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan nilai-nilai etis telah tergeser oleh materi.

POSISI DAN PERAN MAHASISWA

            Mahasiswa sebagai representasi kaum terdidik atau kaum intelektual akan menjadi penentu peradaban di masa depan. Dilihat dari posisinya mahasiswa merupakan sosok yang dipercaya mampu mengubah kondisi sosial masyarakat. Dengan kata lain arah kehidupan di masa depan ada di tangan kaum terdidik yang dalam hal ini adalah mahasiswa. Tentunya mahasiswa yang tetap memegang identitas dan jatidiri yang berlandaskan pada unsur-unsur kemanusiaan. Karena memang di era ini kehidupan banyak menawarkan hal-hal yang menggiurkan. Jika mahasiswa tidak bisa menjaga identitas budaya dan menjaga idealismenya, maka sama saja mahasiswa akan menjadi bagian dari sampah peradaban. Ketika memasuki peran yang harus dimainkan mahasiswa harus tetap berada dalam tujuan utama yaitu untuk membangun peradaban yang manusiawi. Hidup manusia akan lebih bermakna ketika tidak terkungkung dalam pola pikir materialistis. Apabila suatu individu telah berhasil memahami sumbernya, maka individu tersebut akan lebih jernih melihat dunia. Memahami segala permasalahan dan bagaimana mengatasinya. Terlepas dari kekangan tekanan hidup karena telah mencapai masa depan tanpa perlu terbentuk menjadi sebuah materi. Individu semacam ini akan selalu tenang dalam menjalani kehidupannya dan tidak membabi buta. Pada akhirnya individu yang selaras seutuhnya akan terhindar dari perilaku membabi buta karena menemukan apa tujuan utama hidupnya dan bagaimana mencapainya (Khusni Mustaqim :2010).

          Dalam konteks kebudayaan mahasiswa menjadi kaum penjaga atau pengontrol identitas kebudyaanya agar kehidupan masyarakat tetap berada pada tata nilai yang dibangun. Penjaga dalam arti ikut mempertahankan norma, adat, hukum, etika sebagai nilai yang harus dijalankan. Pengontrol berarti mahasiswa harus menjadi aktor yang bisa menyaring budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan kearifan lokal. Peran-peran yang bisa dilakukan dengan menggunakan potensi yang telah diberikan Tuhan berupa cipta, rasa, dan karsa. Cipta memungkinkan mahasiswa untuk menciptakan budaya berkreativitas tinggi, menciptakan perilaku arif dan bijak. Rasa potensi yang akan membawa pada kehidupan yang berempati terhadapa sesama manusia. Hidup yang saling asah, asih dan asuh agar tidak terperangkap dalam individualisme. Karsa mendorong ke arah kuantitas kebudayaan. Budaya-budaya akan dikalasifikasi sesuai dengan identitas yang disandang. Di sinilah peran mahasiswa tidak hanya pada pencapaian intelektual akan tetapi juga pencapaian moral. Perilaku yang dilandasi dengan ruh keilmuan membawa mahasiswa untuk tidak berwawasan sempit, picik dalam berperilaku, serta konsumtif dalam bersikap tetapi ruh keilmuan akan membawa mahasiswa pada kearifan dan kebijaksanaan. Semoga mahasiswa bisa mengemban amanah untuk membangun peradaban yang manusiawi.

 

Biodata Penulis

Nama : Muhammad Yusuf
Alamat : Wonojoyo, Bomerto, Wonosobo
Pekerjaan : Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Sosial PolitikUniversitas Sains Al Quran Jawa Tengah di Wonosobo
Tempat tanggal lahir : Wonosobo, 1 November 1991
Pengalaman organisasi : Ketua Umum PC PMII WonosoboKemendagri BEM UNSIQ 2014-2015

Sekretaris majalah kampus Sauthul Quran

Pimpinan Redaksi Majlah Plano